Beranda » Harga Tiket » Sejarah Desa Penglipuran & Harga Tiket Masuk 2022
Sejarah Desa Penglipuran & Harga Tiket Masuk

Desa Penglipuran

Desa Penglipuran merupakan tradisional yang memiliki kehidupan sosial dan budaya yang unik. Ini adalah salah satu Tempat Wisata Menarik di kabupaten bangli.

Penglipuran merupakan salah satu desa terbersih yang ada di kabupaten bangli dan untuk menuju ke penglipuran dengan mobil perjalanan di tempuh kurang lebih 1,5 jam dari kota denpasar dengan lalu lintas normal

Ciri khas yang sangat nampak dari desa ini yaitu arsitektur bangunan tradisional yang rata-rata memiliki bentuk yang sama yaitu bentuk atap dan juga tata letak ruangan.

Mungkin tujuannya adalah untuk lebih mendekatkan sesama warga sehingga kebersamaan mereka tetap terjaga, selain itu mereka juga memiliki konsep berpadu dengan suasanan alam.

Dengan luas kawasan desa ini sekitar 112 hektar. Di dalamnya ada sekitar 226 kepala keluarga yang hidup dari hasil beternak, bertani dan menjual hasil kerajinan anyaman.

Di lahan desa yang cukup luas tersebut, sekitar 60 persennya dijadikan sebagai lahan pemukiman. Sedangkan 40 persennya, difungsikan sebagai lahan hutan bambu.

Terdapat beberapa aturan unik yang ada di Desa Penglipuran, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Warga yang ingin menebang pohon bambu di sana maka mereka tidak boleh sembarangan, mereka harus izin dengan tokoh masyarakat terlebih dahulu.
  • Pria dilarang untuk mempunyai istri lebih dari satu, hal tersebut merupakan tradisi dari bagian untuk menghormati kaum wanita dan apabila ada orang yang melanggar hal tersebut, maka orang yang bersangkutan akan memperoleh sanksi adat berupa hukuman dikucilkan.
  • Adanya budaya hukuman untuk warga yang melakukan tindak pencurian di desa tersebut. Untuk para pelaku nantinya akan dikenakan sanksi adat berupa hukuman ritual memberikan sesaji berupa 5 ekor ayam dengan warna bulu yang berbeda di dalam 4 pura leluhur mereka.

Penduduk Desa Penglipuran terkenal sangat menjaga hubungan dan kelestarian alam. Tak heran jika kawasan desa mereka sampai saat ini masih terlihat sangat asri.

Pada tahun 1995, pemerintah Indonesia menghadiahkan penghargaan Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan.

Atas apa yang warga desa lakukan, desa ini juga secara resmi ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati pada tahun 1993.

Sejarah Desa Penglipuran & Harga Tiket Masuk

Harga Tiket Masuk Desa Penglipuran

Untuk berkunjung ke desa Penglipuran dikenakan biaya tiket masuk sebesar

KategoriHarga Tiket
DewasaRp. 2o.000
AnakRp. 15.000
Parkir MotorRp. 2000
Parkir MobilRp. 5000
Parkir BusRp. 10.000

Lokasi Desa Penglipuran

Terletak sekitar 6 kilometer dari kota terdekat Bangli atau 1 kilometer dari desa Kubu memiliki 700 penduduk menurut sensus terakhir 1999 dengan jumlah kepala keluarga 192.

Desa Penglipuran adalah desa adat yang memiliki karakter sendiri, milik Kecamatan Kubu-Kecamatan Kubu dan Kabupaten Bangli.

Keindahan desa dan sekitarnya menjadikan desa penglipuran sebagai desa yang tak terjamah era modernisasi.

Didukung oleh udara segar dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, memberikan kenyamanan bagi penduduk desa dan pengunjung.

Desa Penglipuran yang dikelilingi adalah Desa Khayan, Desa Gunaksa, Desa Kubu dan Desa ceking.

Sejarah Desa Penglipuran & Harga Tiket Masuk

Sejarah Desa Penglipuran

Sejarah Desa Penglipuran Bangli Bali memiliki lintasan sejarah yang tertulis rapi di dalam lontar, babad dan juga sebuah prasasti.

Di dalam prasasti disebutkan jika desa ini juga disebut sebagai “desa buyung” yang memiliki arti sebagai pondok buyung gede.

Awal mula keberadaan Desa Penglipuran sudah ada sejak dahulu, konon pada zaman Kerajaan Bangli. Para leluhur penduduk desa ini datang dari Desa Bayung Gede dan menetap sampai sekarang

Sementara nama “Penglipuran” sendiri mempunyai makna sebagai Penghibur/Penglipur hati raja yang pada saat itu raja sedih karena tidak ada orang yang dapat dipercaya dan beliau mencari orang yang jujur

Baca Juga : 4 Objek Wisata Kintamani Populer & Menarik Dikunjungi

pada akhirnya beliau temukan ketika sedang merenung sambil mengamati penduduk desa yang kini bernama penglipuran ini.

 Namun, dari sudut pandang sejarah dan menurut para sesepuh, kata Penglipuran berasal dari kata “Pengeling Pura” yang berarti tempat suci mengenang para leluhur.

Tempat ini sangat berarti sejak leluhur mereka datang dari desa Bayung Gede ke Penglipuran yang jaraknya cukup jauh

Oleh karena itu masyarakat Penglipuran mendirikan pura yang sama sebagaimana yang ada di desa Bayung Gede. Dalam hal ini berarti masyarakat Penglipuran masih mengenal asal usul mereka.

Pendapat lain mengatakan bahwa Penglipuran berasal dari kata “Penglipur” yang berarti “penghibur” karena pada jaman kerajaan tempat ini dijadikan tempat peristirahatan.

Penglipuran memiliki dua pengertian, yaitu pangeling yang kata dasarnya “eling” atau mengingat. Sementara pura artinya tanah leluhur. Jadi, penglipuran artinya mengingat tanah leluhur.

Kata itu juga bisa berarti “penghibur” yang berkonteks makna memberikan petunjuk bahwa ada hubungan sangat erat antara tugas dan tanggung jawab masyarakat dalam menjalankan dharma agama.

Masyarakat desa adat penglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Sebelumnya desa Panglipuran bernama Kubu Bayung.

Pada jaman dahulu raja bali memerintahkan pada warga-warga di Bayung Gede untuk mengerjakan proyek di Kubu Bayung, tapi akhirnya para warga tersebut memutuskan untuk menetap di desa Kubu Bayung.

Dilihat dari segi tradisi, desa adat ini menggunakan sistem pemerintahan hulu apad. Pemerintahan desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru adat.

Prajuru hulu apad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu, jero singgukan, jero cacar, jero balung dan jero pati.

Prajuru hulu apad otomatis dijabat oleh mereka yang paling senior dilihat dari usia perkawinan tetapi yang belum ngelad.

Ngelad atau pensiun terjadi bila semua anak sudah menikah atau salah seorang cucunya telah kawin. Mereka yang baru menikah duduk pada posisi yang paling bawah dalam tangga keanggotaan desa adat.

Tugu Pahlawan Penglipuran

Tugu peringatan  tempat untuk kegiatan tertentu, yang dilengkapi dengan area parkir. Tugu peringatan ini dibangun pada tahun 1959

Didedikasikan untuk perang revolusi di Bangli yang dipimpin oleh kapten Anak Agung udita bersama pasukannya.

Monumen ini bertujuan untuk meini terletak di bagian selatan Desa Penglipuran seluas 1,5 hektar dengan gaya Bali.

Balai Curayudha-nya merupakanngingatkan masyarakat akan perjuangan Kapten Anak Agung Anom Muditha dan pasukannya yang gugur dalam menghadapi NICA (Belanda).

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.